Senin, 02 Juli 2012

Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Menyatakan Akan Demo Jika Mboi Tetap Menabuh Genderang Perang

MADINATULIMAN.COM (Jakarta) - Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa menolak Menteri Kesehatan (Menkes) bagi-bagi kondom kepada para remaja di sekolah, karena rawan disalahgunakan. Selain itu, bisa meningkatkan seks bebas di kalangan remaja.

Kalau Menkes melanjutkan program itu berarti menabuh genderang perang di masyarakat. “Masyarakat akan turun ke jalan dalam jumlah besar untuk menolak itu. Karena program itu sangat sensitif di kalangan masyarakat,” ujar Khofifah kepada Mingguan Syariah di Jakarta beberapa waktu lalu.

Khofifah heran kenapa menjelang momentum bulan puasa dijawab dengan bagi-bagi kondom kepada siswa di sekolah.

Selain itu, juga heran kenapa baru terpilih langsung melontarkan itu. Padahal banyak program lain lebih bermanfaat langsung bagi masyarakat.

Seharusnya bukan dibagi di sekolah, melainkan pada daerah atau orang-orang yang rawan seks beresiko. Seperti sopir truk, para buruh, dan lain-lain.

“Seharusnya yang diutamakan yakni di pelabuhan, tempat pelacuran, kepada PNS, serta ibu rumah tangga. Saat ini banyak ibu rumah tangga yang terinfeksi penyakit HIV Aids. Bukannya kepada siswa di sekolah, dan meskipun ada itu pun bukan utama.

Kemenkes tentunya sudah memiliki data yang akurat daerah mana yang rawan seks beresiko.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah membagikan kondom kepada masyarakat sebanyak 3,7 juta. kemana kondom itu dibagikan? Kemenkes perlu terbuka agar masyarakat tidak salah faham.

Kalau berbicara penanganan HIV Aids, seks bebas bukanlah satu-satunya penyebabnya. Itu merupakan salah satu saja. Itu pun urutannya terakhir.

Yang menjadi penyebab utama adalah banyaknya pengguna obat-obatan. Biasanya mereka juga melakukan seks bebas. Selain itu, mereka sering menggunakan jarum suntik secara bergantian. Jadi kalau ada salah satu kena HIV, yang lain kena juga.

Seharusnya Menkes menyadari dirinya sekarang ini adalah seorang menteri pembuat kebijakan, yang programnya langsung berhubungan masyarakat. Untuk itu, Menkes perlu lebih bijak dalam membuat program. Ini berbeda ketika dia menjabat Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional.

Dalam pemerintahan, SBY ibarat pemimpin orkestra. Meskipun alat yang digunakan beragam. Namun dalam menggunakannya perlu dilakukan secara harmoni, agar hasilnya baik. Jangan dimainkan dengan cara yang tidak harmoni karena bisa membuat kacau.

Seperti itulah antar kementerian. Hendaknya antar kementerian berjalan secara harmoni. Jangan saling bertentangan. Untuk itu, antar kementerian perlu ada komunikasi agar program yang berjalan tidak saling bertentangan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terdapat program pendidikan karakter. Kementerian Agama (Kemenag) terdapat program peningkatan moral. Nah, kenapa Kemenkes malah membuat program bagi-bagi kondom gratis.

Seharusnya, Kemendikbud serta Kemenag berani menegur Kemenkes dengan program itu. Jangan diam saja.

Sumber ; Syariah.info

SHARE THIS

Author:

Situs Berita Islam Balipapan merupakan situs yang memberitakan tentang dunia Islam dan umat Islam, berbagi informasi dan menyemarakkan dakwah / syiar Islamiyah.

0 komentar: