MADINATULIMAN.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap Muhammadiyah ikut dalam penetapan isbat atau awal bulan Ramadan tahun ini. Namun demikian, keputusan apapun dari Muhammadiyah akan tetap dihormati para ulama.
"Kita kan sudah ada pedoman, kalau bisa bareng. Kalau tidak bisa itu ketetapan oleh pemerintah melalui Menteri Agama nantinya," kata Ketua MUI Ma'ruf Amin ketika ditemui di Istana Presiden, Kamis (28/6) malam.
Seperti diberitakan, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin dalam Tanwir Muhammadiyah beberapa waktu lalu menyebut organisasi yang dipimpinnya tidak akan mengikuti sidang isbat dalam menentukan awal Ramadan tahun ini.
Din beralasan Muhammadiyah sudah memiliki pedoman penentuan awal Ramadan hingga 100 tahun mendatang. Ma'ruf memahami alasan tersebut, meski tetap berharap ada unsur dari Muhammadiyah yang ikut dalam penentuan isbat yang diselenggarakan pemerintah bersama ormas-ormas Islam itu.
Sebelumnya, Muhammadiyah selalu ikut namun sering berbeda pandangan dengan hasil dari pemerintah.
Menyikapi penolakan Muhammadiyah, MA'ruf menyarankan para ulama agar menghormati keputusan itu sehingga tidak terjadi konflik horisontal. "Kita harus toleranlah," tandasnya.
Keputusan Muhammadiyah dalam menetapkan awal Ramadan berpotensi terjadi gesekan di akar rumput, hal ini lantaran mayoritas umat Islam menggunakan pedoman dari pemerintah dalam menentukan awal Ramadan.
Persoalannya, penetapan pemerintah melalui sidang isbat yang menentukan posisi hilal sering berbeda hasilnya dengan Muhammadiyah yang berakibat pelaksanaan puasa hingga penetapan Idul Fitri pun dapat berbeda. (Fid/OL-15)'
Sumber : Mediaindonesia.com

0 komentar: