MADINATULIMAN.COM - Kerinduan hadirnya sosok ulama sekaliber Buya Hamka sudah lama menjadi dambaan banyak pihak. Apalagi, masyarakat banyak terperangkap labirin krisis moral. Inilah melatarbelakangi pendiri Pesantren Modern Prof Dr Hamka mendirikan lembaga pendidikan Islam, di Pasar Usang, Nagari Sungaibuluah, Kecamatan Batang Anai, Padangpariaman.
Kehadiran pondok pesantren modern seluas sekitar 4 hektare persegi ini, dirintis Prof Dr H Mansur Malik, Prof Dr Sanusi Latif (keduanya adalah mantan Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, red), serta kawan-kawannya 23 Agustus 1991 lalu. Sampai saat ini, Pondok Pesantren Modern Prof Dr Hamka diperkirakan sudah melahirkan sekitar 7 ribuan alumni berkiprah di berbagai bidang pekerjaan, baik lembaga pemerintahan, BUMN, serta lembaga kemasyarakatan dan sosial keagamaan lainnya.
Pondok Pesantren Modern Prof Dr Hamka dalam kiprahnya tak luput mengalami pasang naik dan pasang surut. Bahkan, ketika gempa menghoyak Sumbar 30 September 2009 lalu, pesantren berjarak sekitar 200 meter dari jalan lintas Sumatera Padang-Bukittinggi itu, turut terkena imbas.
Walau tak terlalu menimbulkan kerusakan fisik, namun gempa itu mengakibatkan jumlah santri menyusut pascagempa. Mujur, beberapa saat kemudian, pesantren ini bisa bangkit dan tetap eksis sampai hari ini.
Kepala Pesantren Modern Prof Dr Hamka, Najimuddin tak menafikan jumlah santri menyusut usai gempa. “Orangtua khawatir menyekolahkan anak-anaknya di sini, apalagi saat gempa terjadi beberapa bangunan asrama sempat retak-retak,” ungkapnya. Saat jaya-jayanya, jumlah santri pondok pesantren ini mencapai 800 orang lebih berasal dari berbagai daerah di tanah air, seperti Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Sumbar, serta daerah lainnya.
Saat ini, menurut Najimuddin, jumlah santri pesantren 108 orang terdiri dari 61 santri setingkat SMP dan 47 siswa setingkat SMA. “Untuk menyiasati kondisi tersebut, tahun ini kita akan menerima santri perempuan,” terangnya.
Baru-baru ini, tambah Najimuddin, pihaknya baru saja menamatkan 39 orang santri setingkat SMP dan 27 setingkat SMA. “Alhamdulillah, semuanya lulus 100 persen. Bahkan yang membanggakan, tahun 2001 lalu pesantren Hamka meraih prestasi peringkat I UN tingkat Padangpariaman dan peringkat 4 Sumbar.
Proses pendidikan di Pesantren Modern Prof Dr Hamka, sebut Najimuddin, pada dasarnya perpaduan pendidikan agama dan umum. Para santri bisa mengikuti kurikulum pendidikan umum dan agama secara utuh. Artinya, selain mengikuti program pendidikan kurikulum umum layaknya kurikulum SMP dan SMA, santri juga mengikuti program kulliatul muallimin islamiah disesuaikan tingkatan masing masing. Di antaranya, meliputi pelajaran nahu syaraf, khad atau seni kaligrafi, bahasa Arab, tafsir dan lain sebagainya. Di sisi lain, sesuai namanya, buku-buku karangan Prof Dr Hamka menjadi menu harian bagi santri.
Sehari-harinya para santri, juga diarahkan menguasai dua bahasa asing khususnya bahasa Arab dan Inggris. Untuk itu, para santri di pesantren ini umumnya diasramakan guna memudahkan pembinaan intensif dari pengasuhnya masing masing. “Kegiatan di pesantren ini sudah dimulai sebelum subuh,” terangnya.
Ketua Yayasan Wawasan Islam Indonesia yang membawahi Pondok Pesantren Modern Prof Dr Hamka, Drs Hasmi SH MSi menyebutkan, melalui pembinaan intensif selama berada di pesantren bisa melahirkan tokoh ulama berintelektual, seperti sosok Buya Hamka.
“Memang itulah keinginan para pendiri pondok pesantren ini. Artinya, bagaimana di pesantren ini bisa melahirkan Hamka-Hamka baru yang keberadaannya diakui secara nasional dan internasional,” ungkap Hasmi. Ia mengaku gembira, karena selama ini Pesantren Modern Hamka cukup membanggakan, salah satu buktinya hampir selalu berhasil meluluskan santrinya 100 persen.
Sekalipun berstatus pesantren modern, menurut Hasmi, bukan berarti pesantren modern Hamka terbatas pada kalangan ekonomi tertentu saja. Sebab, biaya pendidikan di pesantren modern Hamka relatif terjangkau. “Karena selama di pesantren ini, kita hanya mengenakan biaya sesuai kebutuhan harian para santri. Hal itu sesuai amanat pendiri pesantren ini,” tegasnya.
Jika melihat kondisi bangunan fisik pesantren saat ini, menurutnya, memang sudah selayaknya direhabilitasi, terlebih mengingat usianya sudah hampir mencapai 20 tahun. Untuk itulah, pihaknya dari pengurus yayasan mencoba merehab beberapa fisik bangunan. Hanya saja, mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan, proses rehab baru bisa dilakukan secara bertahap. “Karena untuk merehab keseluruhan bangunan pesantren ini, jelas membutuhkan biaya sangat besar yang bisa mencapai Rp 500 juta lebih. Sebab itulah kita sangat berharap adanya dukungan dan perhatian semua pihak. Kita juga mengimbau orangtua menyekolahkan anak-anaknya untuk dididik di pesantren ini,” harapnya. (***)
Sumber : Padangekspres.co.id
Sumber : Padangekspres.co.id

0 komentar: