Sabtu, 30 Juni 2012

Bertekad Lahirkan Ulama Intelektual sekelas Hamka di Pondok Pesantren Modern Prof Dr Hamka

MADINATULIMAN.COM - Kerinduan hadirnya sosok ulama sekaliber Buya Hamka sudah lama menjadi dambaan banyak pihak. Apalagi, masyarakat banyak terperangkap labirin krisis moral. Inilah melatarbelakangi pendiri Pesantren Modern Prof Dr Hamka mendirikan lembaga pendidikan Islam, di Pasar Usang, Nagari Sungaibuluah, Kecamatan Batang Anai, Padangpariaman.

Kehadiran pondok pesantren modern seluas sekitar 4 hektare persegi ini, dirintis Prof Dr H Mansur Malik, Prof Dr Sanusi Latif (keduanya adalah mantan Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, red), serta  kawan-kawannya 23 Agustus 1991 lalu. Sampai saat ini, Pondok Pesantren Modern Prof Dr Hamka diperkirakan sudah melahirkan sekitar 7 ribuan alumni berkiprah di berbagai bidang pekerjaan, baik lembaga pemerintahan, BUMN, serta lembaga kemasyarakatan dan sosial keagamaan lainnya.

Pondok Pesantren Modern Prof Dr Ham­ka dalam kiprahnya tak luput me­ngalami pasang naik dan pasang su­rut. Bahkan, ketika gempa menghoyak Sum­bar 30 September 2009 lalu, pesa­n­tren ber­jarak sekitar 200 meter dari jalan lintas Sumatera Padang-Bukittinggi itu, tu­rut terkena imbas.

Walau tak terlalu menimbulkan k­­e­ru­sa­kan fisik, namun gempa itu mengakibatkan jumlah santri menyusut pascagempa. Mujur, beberapa saat kemudian, pe­san­tren ini bisa bangkit dan tetap eksis sampai hari ini.

Kepala Pesantren Modern Prof Dr Hamka, Najimuddin tak me­nafikan jumlah santri me­nyusut usai gempa. “Orangtua kha­watir menyekolahkan anak-anak­nya di sini, apalagi saat gem­pa terjadi beberapa bangu­nan asrama sempat retak-retak,” ungkapnya. Saat jaya-jayanya, jumlah santri pondok pesantren ini mencapai 800 orang lebih ber­asal dari berbagai daerah di tanah air, seperti Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Sumbar, serta daerah lainnya.

Saat ini, menurut Najimu­d­din, jumlah santri pesan­tren 108 orang terdiri dari 61 santri se­tingkat SMP dan 47 siswa se­tingkat SMA. “Untuk men­yia­sati kondisi tersebut, tahun ini kita akan menerima santri perem­puan,” terangnya.

Baru-baru ini, tambah Naji­mud­din, pihaknya baru saja menamatkan 39 orang santri setingkat SMP dan 27 setingkat SMA. “Alhamdulillah, semua­nya lulus 100 persen. Bahkan yang membanggakan, tahun 2001 lalu pesantren Hamka meraih prestasi peringkat I UN tingkat Padangpariaman dan peringkat 4 Sumbar.

Proses pendidikan di Pesan­tren Modern Prof Dr Ham­ka, sebut Najimuddin, pada dasar­nya perpaduan pendidikan aga­ma dan umum. Para santri bisa mengikuti kurikulum pendi­dikan umum dan agama secara utuh. Artinya, selain mengikuti program pen­didikan kurikulum umum la­yaknya kurikulum SMP dan SMA, santri juga mengikuti program kulliatul muallimin isla­miah disesuaikan tingkatan masing masing. Di antaranya, meliputi pelajaran nahu syaraf, khad atau seni kaligrafi, bahasa Arab, tafsir dan lain sebagainya. Di sisi lain, se­suai namanya, buku-buku kara­ngan Prof Dr Hamka menjadi me­n­u harian bagi santri.

Sehari-harinya para santri, juga diarahkan menguasai dua bahasa asing khususnya bahasa Arab dan Inggris. Untuk itu, para santri di pesantren ini umumnya di­a­sramakan guna memu­dah­kan pem­binaan intensif dari penga­suh­nya masing masing. “Kegiatan di pesantren ini sudah dimulai sebelum subuh,” te­rangnya.

Ketua Yayasan Wawasan Islam Indonesia yang membawahi Pondok Pesantren Modern Prof Dr Hamka, Drs Hasmi SH MSi me­nyebutkan, melalui pem­binaan intensif selama ber­a­da di pesantren bisa mela­hirkan tokoh ulama berintelektual, seperti sosok Buya Hamka.

“Memang itulah keinginan para pendiri pondok pesantren ini. Artinya, bagaimana di pesan­tren ini bisa melahirkan Hamka-Ham­ka baru yang kebera­daan­nya diakui secara nasional dan internasional,” ungkap Hasmi. Ia mengaku gembira, karena se­la­ma ini Pesantren Modern Hamka cukup membanggakan, sa­lah satu buktinya hampir se­lalu berhasil meluluskan santri­nya 100 persen.

Sekalipun berstatus pe­san­tren modern, menurut Has­mi, bukan berarti pesantren modern Hamka terbatas pada kalangan eko­nomi tertentu saja. Sebab, biaya pendidikan di pesantren mo­dern Hamka relatif terjang­kau. “Karena selama di pesan­tren ini, kita hanya mengenakan biaya sesuai kebutuhan harian pa­ra santri. Hal itu sesuai ama­nat pendiri pesantren ini,” tegas­nya.

Jika melihat kondisi bangu­nan fisik pesantren saat ini, me­nurutnya, memang sudah sela­yaknya direhabilitasi, terle­bih mengingat usianya sudah ham­pir mencapai 20 tahun. Untuk itulah, pihaknya dari pengurus yayasan mencoba merehab be­be­­rapa fisik bangunan. Hanya saja, mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan, proses rehab baru bisa dilakukan secara ber­tahap. “Karena untuk mere­hab ke­seluruhan bangunan pe­san­tren ini, jelas membutuhkan biaya sangat besar yang bisa mencapai Rp 500 juta lebih. Sebab itulah kita sangat berha­rap adanya du­kungan dan per­ha­tian semua pi­hak. Kita juga mengimbau orang­tua menye­kolahkan anak-anak­nya untuk dididik di pesan­tren ini,” ha­rapnya. (***)

Sumber : Padangekspres.co.id

SHARE THIS

Author:

Situs Berita Islam Balipapan merupakan situs yang memberitakan tentang dunia Islam dan umat Islam, berbagi informasi dan menyemarakkan dakwah / syiar Islamiyah.

0 komentar: