KAIRO - Kondisi perpolitikan Mesir yang semakin tidak stabil
mengundang perselisihan di kalangan para ulama. Rezim Ikhwanul Muslimin
(IM) yang sempat berkuasa di Mesir selama kurang lebih satu tahun
tumbang pasca puluhan juta rakyat Mesir tumpah ruah di jalanan menuntut
pelengseran Muhammad Morsi dari kursi kepresidenan. Hingga saat ini
massa pro IM masih tetap memadati perempatan Rabeah el-Adaweah untuk
menuntut kekuasaan di kembalikan lagi ke tangan Morsi.
Al-Azhar
sebagai institusi Islam terbesar dan tertua di Mesir senantiasa menjadi
penengah dalam ‘perang’ politik antara kubu IM dan oposisinya. Sikap
moderat yang selama ini ditunjukkan oleh Al-Azhar yang dipresentasikan
oleh Grand Shaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayeb, senantiasa
mendapatkan serangan keras dari para pendukung fanatik IM. Dr. Yusuf
Al-Qardhawi salah seorang ulama pendukung IM yang paling lantang
bersuara membela IM, sering menghina dan merendahkan Grand Shaikh
Al-Azhar. Berbagai fatwa politiknya dinilai kerap memojokkan para ulama
Al-Azhar yang mengambil sikap politik berbeda dengan gerakan IM.
Akibat
kritikan-kritikan pedas yang dilontarkan Al-Qardhawi kepada Al-Azhar,
sejumlah ulama Al-Azhar mengajukan permintaan kepada Grand Shaikh
sebagai pimpinan Dewan Ulama Senior, agar mengadakan rapat darurat guna
membahas sikap Al-Qardhawi dan mempertimbangkan pencabutan
keanggotaannya dari Dewan Ulama Senior. Namun, permintaan tersebut
ditolak oleh Grand Shaikh Al-Azhar. (youm7/onazhar/aam/mosleminfo).

0 komentar: