INDONESIA - Baik Sunni maupun Syiah adalah perkembangan setelah Rasulullah, berawal dari perbedaan politik berkembang jadi teologis. Keduanya punya kontribusi terhadap peradaban Islam, juga masing-masing punya kelemahan/kesalahan.
Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin dalam akun jejaring sosial Twitter-nya (14/7).
Menurut Presiden Kehormatan World Conference on Religion for Peace (WCRP) itu, Sunni dan Syi'ah sebaiknya saling melakukan dialog daripada saling membunuh dan saling mengkafirkan satu dengan yang lain.
"Saya pribadi menganut: la Sunni, la syiah, bal Islamiyah", tulis Din Syamsuddin yang memiliki nama lengkap Prof. Dr. K.H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin dalam akun twitternya.
"Ada ungkapan lain: ana Sunniyyun fi mahabbati ashabi Rasulillah, wa ana Sunniyyun fi mahbbati aali Rasulillah. Allahu a'lam (Saya seorang sunni dalam hal kecintaan pada sahabat Rasulullah dan saya juga sunni dalam hal kecintaan pada keluarga Rasulullah, penj)", lanjut Dim Syamsuddin.
Hal senada juga disampaikan oleh Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafii
Maarif. Buya Syafi'i, begitu panggilan akrabnya, menyampaikan ketidaktertarikannya pada persoalan Syiah dan
Sunni yang sejak berabad abad tidak pernah tidak pernah dapat
diselesaikan.
“Saya tidak tertarik Syiah dan juga Sunni, karena Islam
yang sesungguhnya ada dalam jaman Nabi Muhammad SAW, jangan terjebak
(perdebatan Sunni – Syiah) di dalamnya,” Demikian disampaikan Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafii
Maarif, saat memberikan materinya pada Pengajian Ramadhan 1434 H
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di gedung AR Fakhruddin Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta, Jum’at (12/07/) lalu. [islambalikpapan.com]

0 komentar: