KAIRO - Senin petang (29/4), jalan Mustafa Nuhas di kawasan Hay Sadis,
Madinat Nasr-Kairo diblokade oleh sejumlah mahasiswa Mesir Al-Azhar.
Mereka menutup jalan setelah terjadi keracunan yang memakan korban 161
jiwa. Saat ini korban sedang menjalani perawatan di beberapa rumah sakit
di Kairo. Di antaranya R.S Al-Husein, R.S. Zahra’, R.S Sayyid Jalal.
Dan sampai berita ini dikeluarkan belum ada korban yang dinyatakan
meninggal dunia.
Peristiwa ini bukanlah pertama kali, beberapa waktu lalu juga terjadi kejadian yang serupa dengan korban sekitar 580 jiwa dan tidak ada korban yang meninggal. Adapun penyebab keracunan yang terjadi di asrama Al-Azhar putra khusus mahasiswa asal Mesir yang kedua ini diduga dari makanan kaleng Tuna yang sudah kadaluarsa.
Atas kejadian kemarin ini, sejumlah mahasiswa melakukan blokade jalan
dan berdemo di depan kantor Grand Shaikh Al-Azhar (Masyikhah) hari ini.
Mereka menuntut pengunduran diri Grand Shaikh Al-Azhar, DR. Ahmad
Tayyib, yang dinilai telah gagal menjaga kemaslahatan para mahasiswa dan
menyepelekan peristiwa keracunan yang pertama.
Harian Youm7 menyebutkan, bahwa masa berlaku makanan kaleng Tuna yang
dibagikan kepada para mahasiswa, berlaku sampai 2015 bukan 2012 atau
2013. Hal ini diamini oleh DR. Ibrahim Hud-Hud, Wakil Rektor Universitas
Al-Azhar yang menyatakan, “Kami memiliki lebih dari 12.000 mahasiswa
yang makan dengan makanan yang sama, kenapa hanya sekian ratus yang
keracunan?”
“Mungkin juga mahasiswa yang menjadi korban keracunan itu telah
mengonsumsi makanan-makanan yang dijual di sekitar asrama.” tambahnya.
Setelah mendengar kabar kejadian tersebut, Grand Shaikh Al-Azhar yang
sedang berada di Uni Emirat Arab langsung bertolak kembali ke Mesir
Selasa pagi (30/4) dengan penerbangan khusus dan berusaha segera
menyelesaikan perkara tersebut.
Presiden Republik Mesir, DR. Muhamad Mursi memberikan perhatian
sangat besar dalam dua peristiwa keracunan tersebut. Dalam peristiwa
pertama, keesokan harinya DR. Muhamad Mursi langsung menjenguk para
korban di rumah sakit. Adapun kejadian yang kedua ini, ia langsung
menelpon ketua persatuan mahasiswa selama kurang lebih 20 menit dan
berjanji akan membahas perkara ini dengan Grand Shaikh Al-Azhar secara
langsung. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh Presiden Mursi kepada
mahasiswa universitas mana pun di Mesir.
Para pengamat politik mengatakan, “Kejadian –keracunan yang kedua-
ini sangat berkaitan erat dengan keberhasilan Grand Shaikh Al-Azhar, DR.
Ahmad Tayyib atas pembebasan 103 warga Mesir yang menjadi tahanan Uni
Emirat Arab, yang mana hal tersebut tidak berhasil dilakukan oleh
Presiden Mursi. Tentu keberhasilan DR. Ahmad Tayyib ini menunjukkan
bahwa kedudukan Al-Azhar amatlah besar dan kuat hingga mampu memperkuat
hubungan antara Mesir dan Uni Emirat Arab.“
Hamadah Kasyif, juru bicara Persatuan Pemuda Revolusi, menjelaskan,
“Kejadian keracunan yang berulang ini ada kaitannya dengan penolakan
Grand Shaikh Al-Azhar DR. Ahmad Tayyib atas usulan Ikhwanul Muslimin
terkait obligasi syariah. Ikhwanul Muslimin sengaja ingin melengserkan
DR. Ahmad Tayyib dan menduduki jabatan Grand Shaikh Al-Azhar dengan
orang pilihan mereka.”
Anggota Front Penyelamatan Mesir, Ir. Muhamad Sami, menyuarakan,
“Kejadian ini –keracunan- adalah tanggung jawab Jamaah Ikhwanul
Muslimin, sebab dengan kejadian ini mereka ingin menggiring opini publik
untuk memusuhi Shaikh Ahmad Tayyib.”
Hamdi Hasan, pimpinan Partai Hurriyah Wal Adalah (Kebebasan dan
Keadilan) berpendapat, “Seharusnya Grand Shaikh Al-Azhar dan para
pengajar di Al-Azhar juga ikut merasakan makanan yang dimakan oleh
mahasiswa. Sebab komite yang dibentuk oleh Al-Azhar untuk mengusut kasus
ini sepertinya tak ada hasilnya.” (Ay/Mosleminfo)

0 komentar: