Rabu, 01 Mei 2013

Para Politisi Sinyalir Keracunan Mahasiswa Al-Azhar hanya Propaganda Politik

KAIRO - Senin petang (29/4), jalan Mustafa Nuhas di kawasan Hay Sadis, Madinat Nasr-Kairo diblokade oleh sejumlah mahasiswa Mesir Al-Azhar. Mereka menutup jalan setelah terjadi keracunan yang memakan korban 161 jiwa. Saat ini korban sedang menjalani perawatan di beberapa rumah sakit di Kairo. Di antaranya R.S Al-Husein, R.S. Zahra’, R.S Sayyid Jalal. Dan sampai berita ini dikeluarkan belum ada korban yang dinyatakan meninggal dunia.

Peristiwa ini bukanlah pertama kali, beberapa waktu lalu juga terjadi kejadian yang serupa dengan korban sekitar 580 jiwa dan tidak ada korban yang meninggal. Adapun penyebab keracunan yang terjadi di asrama Al-Azhar putra khusus mahasiswa asal Mesir yang kedua ini diduga dari makanan kaleng Tuna yang sudah kadaluarsa.

Atas kejadian kemarin ini, sejumlah mahasiswa melakukan blokade jalan dan berdemo di depan kantor Grand Shaikh Al-Azhar (Masyikhah) hari ini. Mereka menuntut pengunduran diri Grand Shaikh Al-Azhar, DR. Ahmad Tayyib, yang dinilai telah gagal menjaga kemaslahatan para mahasiswa dan menyepelekan peristiwa keracunan yang pertama.

Harian Youm7 menyebutkan, bahwa masa berlaku makanan kaleng Tuna yang dibagikan kepada para mahasiswa, berlaku sampai 2015 bukan 2012 atau 2013. Hal ini diamini oleh DR. Ibrahim Hud-Hud, Wakil Rektor Universitas Al-Azhar yang menyatakan, “Kami memiliki lebih dari 12.000 mahasiswa yang makan dengan makanan yang sama, kenapa hanya sekian ratus yang keracunan?”

“Mungkin juga mahasiswa yang menjadi korban keracunan itu telah mengonsumsi makanan-makanan yang dijual di sekitar asrama.” tambahnya.

Setelah mendengar kabar kejadian tersebut, Grand Shaikh Al-Azhar yang sedang berada di Uni Emirat Arab langsung bertolak kembali ke Mesir Selasa pagi (30/4) dengan penerbangan khusus dan berusaha segera menyelesaikan perkara tersebut.

Presiden Republik Mesir, DR. Muhamad Mursi memberikan perhatian sangat besar dalam dua peristiwa keracunan tersebut. Dalam peristiwa pertama, keesokan harinya DR. Muhamad Mursi langsung menjenguk para korban di rumah sakit. Adapun kejadian yang kedua ini, ia langsung menelpon ketua persatuan mahasiswa selama kurang lebih 20 menit dan berjanji akan membahas perkara ini dengan Grand Shaikh Al-Azhar secara langsung. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh Presiden Mursi kepada mahasiswa universitas mana pun di Mesir.
Para pengamat politik mengatakan, “Kejadian –keracunan yang kedua- ini sangat berkaitan erat dengan keberhasilan Grand Shaikh Al-Azhar, DR. Ahmad Tayyib atas pembebasan 103 warga Mesir yang menjadi tahanan Uni Emirat Arab, yang mana hal tersebut tidak berhasil dilakukan oleh Presiden Mursi. Tentu keberhasilan DR. Ahmad Tayyib ini menunjukkan bahwa kedudukan Al-Azhar amatlah besar dan kuat hingga mampu memperkuat hubungan antara Mesir dan Uni Emirat Arab.“

Hamadah Kasyif, juru bicara Persatuan Pemuda Revolusi, menjelaskan, “Kejadian keracunan yang berulang ini ada kaitannya dengan penolakan Grand Shaikh Al-Azhar DR. Ahmad Tayyib atas usulan Ikhwanul Muslimin terkait obligasi syariah. Ikhwanul Muslimin sengaja ingin melengserkan DR. Ahmad Tayyib dan menduduki jabatan Grand Shaikh Al-Azhar dengan orang pilihan mereka.”

Anggota Front Penyelamatan Mesir, Ir. Muhamad Sami, menyuarakan, “Kejadian ini –keracunan- adalah tanggung jawab Jamaah Ikhwanul Muslimin, sebab dengan kejadian ini mereka ingin menggiring opini publik untuk memusuhi Shaikh Ahmad Tayyib.”

Hamdi Hasan, pimpinan Partai Hurriyah Wal Adalah (Kebebasan dan Keadilan) berpendapat, “Seharusnya Grand Shaikh Al-Azhar dan para pengajar di Al-Azhar juga ikut merasakan makanan yang dimakan oleh mahasiswa. Sebab komite yang dibentuk oleh Al-Azhar untuk mengusut kasus ini sepertinya tak ada hasilnya.” (Ay/Mosleminfo)

SHARE THIS

Author:

Situs Berita Islam Balipapan merupakan situs yang memberitakan tentang dunia Islam dan umat Islam, berbagi informasi dan menyemarakkan dakwah / syiar Islamiyah.

0 komentar: