Jakarta
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar tahlilan dan doa
bersama bagi kyai dan korban kekejaman G30S/PKI di kantor PBNU, Jakarta
Pusat. Dalam pemaparannya, Wakil Ketua PBNU As'ad Said Ali menyatakan
bahwa NU tak akan melupakan sejarah kekejaman G30S/PKI yang juga menimpa
warga NU.
Acara tahlilan dan doa bersama itu dihadiri oleh sekitar 100-an warga Nahdatul Ulama di kantor PBNU, Jalan Ramat Raya, Jakarta Pusat. Kegiatan yang berlangsung sederhana itu diisi tahlilan, doa bersama dan uraian-uraian dari pengurus Nahdatul Ulama.
"Korban yang begitu besar ditutupi PKI, tetapi para ulama, santri dan korban tidak akan melupakan sejarah dan pembunuhan yang dilakukan PKI meneror masyarakat NU," ujar Wakil Ketua PBNU As'ad Said Ali dalam sambutannya, di kantor PBNU, Jalan Ramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (1/9/2012).
As'ad menilai, sejarah G30S/PKI telah terbalik. PKI yang selama ini melakukan kekejaman dan pembunuhan terhadap masyarakat sipil justru sering dianggap korban. Padahal sebagaimana diketahui sejarah, mereka yang telah melakukan kekejaman.
"PKI meminta para kyai meminta maaf. Kalau ingin meminta maaf maka kita harus saling memberi maaf, bukan hanya sepihak itu tidak adil. Saya yakin dan curiga ada pihak yang memanfaatkan (pemahaman sejarah yang menyimpang), tapi kita tak gentar, pemaham sejarah harus diluruskan," tegas As'ad.
"NU bisa memaafkan PKI sejauh mereka meminta maaf," imbuhnya.
(bal/mpr)
Acara tahlilan dan doa bersama itu dihadiri oleh sekitar 100-an warga Nahdatul Ulama di kantor PBNU, Jalan Ramat Raya, Jakarta Pusat. Kegiatan yang berlangsung sederhana itu diisi tahlilan, doa bersama dan uraian-uraian dari pengurus Nahdatul Ulama.
"Korban yang begitu besar ditutupi PKI, tetapi para ulama, santri dan korban tidak akan melupakan sejarah dan pembunuhan yang dilakukan PKI meneror masyarakat NU," ujar Wakil Ketua PBNU As'ad Said Ali dalam sambutannya, di kantor PBNU, Jalan Ramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (1/9/2012).
As'ad menilai, sejarah G30S/PKI telah terbalik. PKI yang selama ini melakukan kekejaman dan pembunuhan terhadap masyarakat sipil justru sering dianggap korban. Padahal sebagaimana diketahui sejarah, mereka yang telah melakukan kekejaman.
"PKI meminta para kyai meminta maaf. Kalau ingin meminta maaf maka kita harus saling memberi maaf, bukan hanya sepihak itu tidak adil. Saya yakin dan curiga ada pihak yang memanfaatkan (pemahaman sejarah yang menyimpang), tapi kita tak gentar, pemaham sejarah harus diluruskan," tegas As'ad.
"NU bisa memaafkan PKI sejauh mereka meminta maaf," imbuhnya.
(bal/mpr)
