Kamis, 26 Juli 2012

Dinilai Lecehkan Ajaran Islam di Buku Panduan Ramadan ; Penulis Bertanggung Jawab


Shulkan berkilah jika kesalahan yang terjadi merupakan kesalahan teknis di tingkat editing.

Penulis buku panduan kegiatan Ramadan untuk siswa MI di Sragen, Jawa Tengah, H Shulkan mengaku bertanggungjawab terhadap revisi isi buku yang dinilai meresahkan umat Islam. Ia tak menyangka jika isi buku di halaman 13 point H nomor 8, dinilai menyudutkan praktik ibadah salat tarawih 20 rakaat.

Shulkan berkilah jika kesalahan yang terjadi merupakan kesalahan teknis di tingkat editing. Menurut Shulkan, tahap editing seharusnya melalui pengawasan ketat dari Kasi Madrasah dan pendidikan agama Islam pada Sekolah umum (Mapenda) Sragen. Kenyataannya, buku panduan itu langsung dicetak lantas diedarkan ke siswa MI se-Kabupaten Sragen.

”Saya bertanggungjawab menyelesaikan persoalan ini. Buku itu sebetulnya memang belum layak cetak,” katanya. Selain persoalan hadits, kekeliruan juga terdapat pada tulisan huruf arab yang kurang sempurna.  

”Masih ada beberapa kesalahan pada penulisan huruf arab yang ditulis dalam buku itu. Saya tahu itu sangat menyinggung umat Islam,” katanya di Sragen, Selasa (24/7), seperti dikutip situs NU Online.

Sementara itu Kepala Sekolah MI Maarif Tanggan, Agus Wikukuh, sudah mendapat perintah dari Kasi Mapeda Sragen Irwan Junaidi, untuk menarik seluruh buku bermasalah tersebut di masing-masing sekolahan. Dikatakan Agus, di MI Tanggan, akan menarik sebanyak 85 buku panduan.  Buku seharga Rp2.500 itu selanjutnya akan diserahkan ke kelompok Kepala Sekolah Madrasah Sukodono. 

Krisna, Sekretaris GP Ansor Sragen, GP Ansor siap mendatangkan massa ke kantor Kedmentrian Agama (Kemenag) Sragen, apabila lembaga pemerintah itu tidak segera menarik buku panduan Ramadan. 

”Saya mengecek ke beberapa sekolahan seperti di MI Desa Patihan, Sidoharjo, ternyata belum ada aktivitas penarikan buku. Guru setempat juga tidak mengetahui ada perintah penarikan buku panduan,” kata Krisna.

Apabila dalam waktu dekat ini buku panduan itu tidak ditarik, maka GP Ansor kata Krisna, akan mendatangi Kemenag dan menuntut kepada pihak penerbit Wijaya Ilmu untuk minta maaf, lantaran ini ada indikasi kesengajaan. 

Kepala Kemenag Kabupaten Sragen, Muh Saidun, menjelaskan sudah bertemu dengan penulis buku panduan, dan buku itu akan ditarik dan direvisi. Sedangkan Agus, penerbit Wijaya Ilmu, siap melakukan cetak ulang sebanyak 3.000 eksemplar buku panduan Ramadan. Proses mencetak ulang akan dilakukan setelah buku-buku tersebut selesai dikumpulkan dari masing-masing MI di Kabupaten Sragen.

Terkait dengan hebohnya buku panduan Ramadhan bagi siwa MI, ketua Komisi IV DPRD Sragen, Suharjo menilai, ada indikasi kesengajaan dari pejabat Kemenag Sragen dalam mencantumkan kata-kata yang menyinggung kelompok tertentu. Komisi III berkeinginan menganggil Kepala Kemenag Sragen, untuk menjelaskan kepada wakil rakyat.

”Perbedaan keyakinan itu mestinya disikapi secara arif dan bijaksana, jangan sampai permasalahan perbedaan jadi masalah yang berpotensi mendiskriditkan kelompok tertentu. Kepala Kemenag harus bertanggungjawab,” tegas Suharjo. 

Penulis: Teddy Kurniawan
Sumber:www.nu.or.id


SHARE THIS

Author:

Situs Berita Islam Balipapan merupakan situs yang memberitakan tentang dunia Islam dan umat Islam, berbagi informasi dan menyemarakkan dakwah / syiar Islamiyah.

0 komentar: