KAIRO - Pemerintah sementara Mesir akan menjalin hubungan diplomatik dengan
Suriah, menyusul pemecatan militer mantan Presiden Mohammed Morsi.
Dalam komentar pertamanya sejak diangkat menjadi menteri luar negeri baru Mesir, Nabil Fahmy pada Sabtu, 20/07/13, mengatakan, Mesir tidak berniat mendukung perang ekstrimis di Suriah.
"Semuanya akan dievaluasi kembali," kata Fahmy kepada wartawan di Kairo.
Pernyataan Fahmy tersebut mengisyaratkan menggeser kebijakan luar negeri prisiden terguling, Morsi.
Fahmy juga mengatakan Mesir sedang mencari solusi politik untuk krisis tiga tahun di Suriah, yang menurut PBB telah menewaskan lebih dari 90.000 orang, demikian al-Alam melaporkan.
Presiden terguling Mohammad Mosri sebelumnya mendukung pemberontakan di Suriah sebagai landan kebijakan luar negerinya.
Fahmy mengatakan Mesir secara serius akan menilai hubungan dengan Iran.
Menteri luar negeri itu mengatakan Mesir juga mencari hubungan ang baik dengan Ethiopia dan Turki.[IT/Onh/Ass/IslamTime/IslamBalikpapan]
Dalam komentar pertamanya sejak diangkat menjadi menteri luar negeri baru Mesir, Nabil Fahmy pada Sabtu, 20/07/13, mengatakan, Mesir tidak berniat mendukung perang ekstrimis di Suriah.
"Semuanya akan dievaluasi kembali," kata Fahmy kepada wartawan di Kairo.
Pernyataan Fahmy tersebut mengisyaratkan menggeser kebijakan luar negeri prisiden terguling, Morsi.
Fahmy juga mengatakan Mesir sedang mencari solusi politik untuk krisis tiga tahun di Suriah, yang menurut PBB telah menewaskan lebih dari 90.000 orang, demikian al-Alam melaporkan.
Presiden terguling Mohammad Mosri sebelumnya mendukung pemberontakan di Suriah sebagai landan kebijakan luar negerinya.
Fahmy mengatakan Mesir secara serius akan menilai hubungan dengan Iran.
Menteri luar negeri itu mengatakan Mesir juga mencari hubungan ang baik dengan Ethiopia dan Turki.[IT/Onh/Ass/IslamTime/IslamBalikpapan]

0 komentar: