JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengendus adanya rencana
jaringan teroris yang menargetkan pada 2014 sebagai momen melancarkan
aksi terorisme besar-besaran untuk memperkeruh situasi negara.
"Mereka mengumpulkan logistik sebanyak-banyaknya demi persiapan dalam rencana aksi teror saat momentum Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014," kata anggota Densus 88 Polri yang enggan diungkap identitasnya dalam pertemuan Polri dengan pemimpin redaksi media massa, di Jakarta, Kamis (16/5).
Dengan menyasar momen pilpres, katanya, kepanikan dan ketakutan yang ditimbulkan atas aksi teror akan semakin kentara. Potensi kegagalan pesta demokrasi pun semakin mencuat. Pemimpin dan wakil rakyat pun akan gagal terpilih. Walhasil, kekacauan dalam ketatanegaraan akan datang mengancam.
Menurutnya, ini bukan yang pertama terjadi. Hal serupa terjadi pada Pemilu 2009. Ketika itu, terjadi ledakan bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW Mariott, di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Sebagai pengantin (pelaku bom bunuh diri), adalah Dani Dwi Permana dan Nana Ikhwan Maulana. Sementara otaknya, Noordin M Top, tewas terbunuh dalam penggerebekan Densus 88, di Surakarta, 17 September 2009. "Kelompok itu yang jadi gubernurnya Wiliam Maksum, yang tertangkap di Bandung," imbuh dia.
Upaya memuluskan rencana ini dilakukan lewat pengumpulan dana dari sejumlah perampokan di beberapa daerah. Sasaran aksi yang menonjol adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI). Di antaranya, BRI cabang Grobogan dengan hasil jarahan Rp630 juta, BRI cabang Batang Rp790 juta, BRI cabang Lampung Rp460 juta. "BRI inikan banyak cabangnya di daerah, jadi gampang jadi target," terang sumber tadi.
Selain itu, ada pula korban toko telepon selular (ponsel) di Bintaro, Jakarta Selatan, akhir 2012. Sekitar 100 unit ponsel pun berhasil dijarah. Begitupula perampokan toko emas di Srengseng, Jakarta Barat, yang mengangkut 4 kilogram emas.
Hasil rampokan itu lantas digunakan untuk membeli logistik persenjataan. Yakni, 21 pucuk senjata api jenis revolver, pistol jenis FN, dan satu pucuk laras panjang M1 US Carbine. Begitupula dengan 1.905 peluru, yakni 505 butir peluru untuk revolver, 400 butir peluru FN, dan 900 butir peluru kaliber 5,56 mm, dan 100 butir bagi M1 US Carbine.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan, Polri mengantisipasi ancaman terorisme pada 2014 lewat kerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Binmas Pemda, di seluruh wilayah di Indonesia, dan TNI. Ini dilakukan lewat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam ranah pengamanan Pemilu.
"Sasaran (teroris) di 2014 akan didalami lagi. Ini akan makin jelas lewat pemeriksaan terhadap (para tersangka teroris) sendiri," kata Boy. (Arif Hulwan)
"Mereka mengumpulkan logistik sebanyak-banyaknya demi persiapan dalam rencana aksi teror saat momentum Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014," kata anggota Densus 88 Polri yang enggan diungkap identitasnya dalam pertemuan Polri dengan pemimpin redaksi media massa, di Jakarta, Kamis (16/5).
Dengan menyasar momen pilpres, katanya, kepanikan dan ketakutan yang ditimbulkan atas aksi teror akan semakin kentara. Potensi kegagalan pesta demokrasi pun semakin mencuat. Pemimpin dan wakil rakyat pun akan gagal terpilih. Walhasil, kekacauan dalam ketatanegaraan akan datang mengancam.
Menurutnya, ini bukan yang pertama terjadi. Hal serupa terjadi pada Pemilu 2009. Ketika itu, terjadi ledakan bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW Mariott, di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Sebagai pengantin (pelaku bom bunuh diri), adalah Dani Dwi Permana dan Nana Ikhwan Maulana. Sementara otaknya, Noordin M Top, tewas terbunuh dalam penggerebekan Densus 88, di Surakarta, 17 September 2009. "Kelompok itu yang jadi gubernurnya Wiliam Maksum, yang tertangkap di Bandung," imbuh dia.
Upaya memuluskan rencana ini dilakukan lewat pengumpulan dana dari sejumlah perampokan di beberapa daerah. Sasaran aksi yang menonjol adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI). Di antaranya, BRI cabang Grobogan dengan hasil jarahan Rp630 juta, BRI cabang Batang Rp790 juta, BRI cabang Lampung Rp460 juta. "BRI inikan banyak cabangnya di daerah, jadi gampang jadi target," terang sumber tadi.
Selain itu, ada pula korban toko telepon selular (ponsel) di Bintaro, Jakarta Selatan, akhir 2012. Sekitar 100 unit ponsel pun berhasil dijarah. Begitupula perampokan toko emas di Srengseng, Jakarta Barat, yang mengangkut 4 kilogram emas.
Hasil rampokan itu lantas digunakan untuk membeli logistik persenjataan. Yakni, 21 pucuk senjata api jenis revolver, pistol jenis FN, dan satu pucuk laras panjang M1 US Carbine. Begitupula dengan 1.905 peluru, yakni 505 butir peluru untuk revolver, 400 butir peluru FN, dan 900 butir peluru kaliber 5,56 mm, dan 100 butir bagi M1 US Carbine.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan, Polri mengantisipasi ancaman terorisme pada 2014 lewat kerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Binmas Pemda, di seluruh wilayah di Indonesia, dan TNI. Ini dilakukan lewat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam ranah pengamanan Pemilu.
"Sasaran (teroris) di 2014 akan didalami lagi. Ini akan makin jelas lewat pemeriksaan terhadap (para tersangka teroris) sendiri," kata Boy. (Arif Hulwan)
Sumber: metrotvnews.com

0 komentar: