BALIKPAPAN - Para pedagang kaki lima (PKL) lapangan Foni baik depan rumah
sakit bersalin sayang ibu dan depan masjid Al Amin, bersilaturahmi
dengan para pengurus LPM Baru Ilir Balikpapan Barat. Pembahasan yang
dilakukan mengenai keluhan pada pedagang, adanya antrean truk besar,
sehingga sangat mengganggu aktivitas para pedagang maupun pengguna jalan
lainnya.
Ketua LPM Baru Ilir Abd Jabar mengatakan, silaturahmi tersebut diadakan
terkait adanya berita yang mengatakan PKL pemicu macetnya jalanan
sehingga sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat yang wilayahnya ada di
Baru Ilir merasa terpanggil untuk menangahi masalah yang ada.
“Kemarin kami sempat silaturahmi dengan para PKL yang ada di sekitar
wilayah lapangan Foni serta membahas bagaimana caranya menyikapi antrean
truk agar tidak terus menerus parkir liar sehingga para PKL namanya
tidak-ikut-ikutan,” kata Jabar.
Dirinya menambahkan, selain itu juga keberadaan truk merusak bahu
jalan yang tidak sesuai dengan keperuntukannya, untuk itu para pedagang
mengusulkan beberapa usulan. Di antaranya jam pengisian wajib di atas
pukul 21.00 Wita, antrean solar dalam kota hanya diperuntukkan mobil
roda 4 saja, selebihnya silakan di luar kota.
Selain itu para PKL khusunya di depan rumah sakit bersalin sayang ibu
menginginkan adanya tempat jualan yang permanen layaknya seperti di
samping Persiba. Hal itu dengan alasan di daerah tersebut telah menjadi
icon tempat kuliner di wilayah Kebun Sayur.
“Karena segala jenis makanan telah ada di situ, tinggal penataan tempat
yang lebih rapi, karena kegiatannya hanya ada di sore hingga malam
hari, sehingga tidak menggangu pengguna jalan baik pejalan kaki dan
pengendara motor,” papar jabar yang juga wirausaha muda di bidang
pendidikan ini.
Jabar menambahkan, Pemkot harusnya berbangga diri, karena animo
masyarakat khususnya wilayah Balikpapan Barat untuk menjadi
pedagang/wirausaha sangat besar, secara otomatis ekonmomi mereka juga
meningkat dan hal ini mengurangi beban pemerintah khusunya masalah
pengangguran.
Dengan adanya hal seperti itu para PKL dapat mempekerjakan 1 atau 2
orang tetangganya, tinggal Pemkot bagaimana mendukung dan memberikan
kesempatan untuk berjualan agar lebih baik lagi.
Keberadaan PKL bukan malah digusur dan tidak ada solusinya, sehingga
menjadikan mereka pengangguran dan akan berdampak kegiatan yang bersifat
negatif. Di Balikpapan banyak hal terjadi seperti pencurian, perampokan
dan perkelahian. “Karena ya itu tadi pasti masalah ekonomi,” terang
pemuda pelopor Kaltim dan nasional ini.
“Saran saya khususnya kepada pemerintah kota, atau stakeholder yang
berhubungan seperti Hipmi, Kadin, Forum CSR, ayo galakkan wirausaha
dengan memberikan fasilitas dan ruang gerak baik dalam bentuk keringanan
permodalan, tempat usaha dan pembinaan secara berkelanjutan. Jangan
hanya dibina itu pengusaha kelas kakap, padahal maju mundurnya
perekonomian dilihat dari banyaknya para UMKM yang tampil, seperti para
PKL ini,” imbuhnya.
Dan bila PKL sejahtera berdampak pada pembangunan kota Balikpapan itu sendiri. “Gimana
mau dikatakan kota madinatul iman, kalau penduduknya banyak penjudi,
perampok, pemerkosa pemakai narkoba dan sebagainya,” tutupnya.(bp-13)
http://balikpapanpos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=89648
http://www.balikpapanpos.co.id/uploads/berita/dir07012013/img07012013861521.jpg
