Berdiri sejak transisi masa reformasi, PKB tentu punya
cukup pengalaman untuk kembali bertarung pada Pileg 2014 mendatang.
Dengan konsep partai Islam yang “terbuka” , PKB di Balikpapan mulai
bertransformasi dan menjadikan pemuda sebagai ujung tombak kebangkitan.
SESUAI namanya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang
berdiri tahun 1998 pasca runtuhnya order baru dan beralih ke masa
reformasi kini kembali melirik pemuda sebagai garda bangsa terdepan. Ini
juga yang diperlihatkan dalam pemilihan umum legislatif (pileg) 2014
mendatang. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kota Balikpapan, mengutamakan
pemuda untuk maju.
“Semangatnya sama ketika PKB berdiri. Kita menilai pemuda punya potensi
untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik, kendati para senior juga
tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Kita ingin regenerasi itu ada,”
ujar Ketua DPC PKB Kota Balikpapan, Muhammad Rafii.
Menurutnya, kehadiran PKB harus memberi warna tersendiri. Di parlemen,
kader PKB yang nantinya lolos harus benar-benar mentaati komitmen yang
dibangun sejak awal. Yakni mengutamakan kepentingan masyarakat, bukannya
jauh. Harus berani menyuarakan suara kebenaran kendati dalam posisi
terjepit.
“Karena itulah tantangannya menjadi wakil rakyat, tidak boleh tertekan
oleh kekuasaan tertentu. Kita semua mengerti, di politik itu ada yang
namanya bargaining, dan PKB harus bisa mengimbanginya,” tutur Rafii
didamping Wakilnya, Ir Siwi Fajarinta Widya, Jumat (8/3) kemarin.
Bagaimana dengan persiapan pencalegkan? Berkaitan ini, Rafii mengaku
bahwa proses pendataan sudah rampung. Sekarang, tinggal melakukan
verifikasi dan seleksi. Ada tim khusus yang dibentuk untuk menilai para
caleg dari berbagai aspek. Di antaranya bagaimana kedekatan dan
loyalitasnya kepada masyarakat, termasuk semangat sosialnya. “Kita
berpikiran kalau ingin sukses, ada dua hal yang bisa dikerjakan. Pertama
banyak uang dan kaya jiwa sosial, tapi jelas PKB tidak punya uang
banyak. Jadi semangat sosial yang kita kedepankan, karena jiwa sosial
ini lebih abadi ketimbang uang. Ini fakta, bukannya kita so-soan,”
tambah Siwi.
Menjadi caleg PKB boleh dibilang tidak terlalu sulit, berbeda dengan
partai lainnya. Menjadi caleg PKB, utamanya harus komitmen terhadap
tujuan utama partai membangun masyarakat dan daerah menjadi lebih bagus.
Berani untuk jujur, dan bersikap taktis. “Makanya kita tidak banyak
caleg yang usianya lebih dari 55 tahun, rata-rata muda. Kita ingin caleg
PKB berpikiran progresif, sama seperti tokoh Gus Dur dan Dahlan Iskan lah,
kita optimis. Masyarakat sudah cerdas, tinggal kita bagaimana kita
memilih caleg yang berkualitas yang potensi dipilih masyarakat, itu
saja,” tutur Siwi.
Senada, Rafii menegaskan bagwa caleg yang “dibawa” PKB harus membawa
perubahan. “Masa yang duduk di DPRD itu-itu saja, biarkan yang lain juga
berpatisipasi. Orang baru pasti memberi warna baru, terutama pemuda.
Tidak usahlah pintar bahasa Inggris, intelek terlalu tinggi. Percuma
kalau ujung-ujungnya hanya untuk ngakal-ngakali rakyat,” sebut Rafii yng
juga didampingi Wakil Ketua PKB, Idris dan perwakilan sayap partai
Garda Bangsa, Badriansyah.
PKB juga tidak ingin memiliki target terlalu tinggi di pileg 2014. Jika
periode 2009 lalu, tidak ada satu pun kader PKB yang masuk, maka ke
depan setidaknya ada beberapa orang yang bisa membentuk fraksi mandiri.
“Setiap dapil kita harapkan ada yang lolos, tapi memang itu berat. Yang
jelas kita usahakan korum dulu (terbentuk satu fraksi minimal 4 orang, Red).
Tidak usah muluk-muluk, yang penting kita perbanyak silaturahim saja ke
masyarakat. Kita harus bisa bangkit,” terang Ketua GP Anshor Balikpapan
ini.
Dia juga bercerita soal sejarah PKB yang tidak terlepas dari nafas
Nahdatul Ulama (NU). Makanya, kader PKB dilarang jauh-jauh dari ulama.
“Kita ini partai rahmatan lil’alamin, dasar ini yang kita
kembangkan. Memang kita punya dasar Islam, tapi kita terbuka untuk semua
agama, semua suku, ras dan budaya. Kita memahami betul Indonesia yang
heterogen, namun tetap ada aturan yang kita jadikan patokan. Selama
tidak keluar dari yang ditetapkan, kenapa harus jadi masalah,” bebernya.
PKB juga memastikan, tidak akan melakukan Pergantian Antar Waktu (PAW)
selama kader yang bersangkutan melaksanakan tanggungjawabnya sebagai
wakil rakyat dengan optimal. “Walaupun caleg satu dengan yang lain
selisih 1 suara, silahkan jalankan amanah itu 5 tahun. Karena dari situ
kita mengajarkan sikap legowo, mendorong rekan kita yang lolos agar bisa
menjadi penyambung keinginan partai, penyambung suara masyarakat.
Kecuali betul-betul tidak bisa lagi diingatkan, mau tidak mau kita tarik
daripada justru melukai rakyat,” tambah Idris.
Pihaknya juga beruntung, beberapa partai yang tidak lolos verifikasi
berbalik arah ke PKB. Misalnya Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU)
dan termasuk Pengurus Besar Nahdlatul Ulama(PBNU). “Sebenarnya NU
terbuka, silahkan kader NU ke partai manapun. Tapi tidak ada salahnya,
partai PKB yang punya sejarah erat dengan NU ini yang dibesarkan. Karena
PKB didirikan untuk mewakili suara NU dan masyarakat Islam pada
umumnya,” tambah Idris.
Peluang lain, PKB tergolong partai yang adem ayem. Hingga kini tak ada
gonjang ganjing partai yang memengaruhi suara signifikan di masyarakat,
baik di pusat atau daerah. “Kalau periode lalu iya, kita dihadapkan
masalah besar berupa dualisme kepemimpinan partai. Tapi sekarang sudah
selesai, makanya kita istilahkan kalau partai lain buka lembaran baru,
kita tutup lembaran akhir. Ya kita mohon doa semuanya saja, supaya
cita-cita kita ini kabul(dikabulkan, Red),” tandas
Rafii sembari menyebut, ada strategi khusus yang dilakukan PKB untuk
meraih hasil bagus di pileg 2014 yang menjadi pembeda dengan partai
lain. “Strateginya apa, rahasia,” pungkasnya sembari tersenyum. (die)
http://www.balikpapanpos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=89189