Dalam
masyarakat dinamis melahirkan orang-orang yang bergerak cepat, pandai
dalam pergaulan, dan ulet dalam berusaha. Di antara orang-orang gaul
itulah, Habib Mahdar bin Abubakar Al-Qadri MA yang bergelut dalam dakwah
Islamiyah. Trik dan taktik yang dipakainya dalam melancarkan gerak
dakwah ulet dan teguh, serta tak kalah dengan saudagar tangguh.
Habib
gaul ini sesekali duduk di majelis taklim untuk mengajar mengaji,
tetapi di lain tempat, sesekali dia berpenampilan sebagai pembalap motor
gede dengan perkumpulannya. Bahkan sekali waktu muncul di hotel membawa
band yang terdiri santri-santri dengan lagu-lagu islami. Namun tak
tanggung-tanggung menyulap diri jadi pendekar ketika berhadapan dengan
para preman kampung yang suka memalak masyarakat kecil, karena dia juga
menjadi pengasuh perguruan pencak silat.
Habib
Mahdar bin Abubakar Al-Qadri MA, alumni Universitas Al-Azhar, Mesir.
Dia menjadi pimpinan pondok pesantren Nurul Khaeraat Al-Muhibbiin
Balikpapan sejak 2008. Yaitu menuruskan peran adiknya, Habib Farid bin
Abubakar Al-Qadri, yang merintis lembaga pendidikan ini, tetapi
meninggal pada waktu muda.
Habib
Mahdar kelahiran Tawaeli, Palu, Sulawesi Tengah, 15 November 1955,
merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara putra-putri pasangan Habib
Abubakar Al-Qadri dengan Hajjah Mas’ad binti Umar Bagimah. Dia memulai
pendidikan dasar hingga menengah di tanah kelahirannya, dan kemudian
melanjutkan ke Pondok Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Timur
“Sebelum masuk Gontor, saya masuk pondok pesantren Ngabar di Ponorogo juga. Pondok ini merupakan persiapan untuk masuk ke Gontor,” ujarnya.
Setelah
selesai dari Pondok Gontor, kemudian melanjutkan ke IAIN Sunan Kalijaga
di Yogyakarta, tetapi hanya mendapatkan tiga tahun kuliah, dan
selanjutnya meneruskan di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir pada tahun
1978. Keberuntungannya dapat belajar di Al-Azhar, karena waktu itu,
ayahnya bekerja di Kedutaan Indonesia di Arab Saudi yang berkedudukan di
Jeddah, karena itulah, dia mengikuti ayahnya ke Saudi kemudian
dititipkan kepada keluarga Dr Quraisy Shihab yang kala itu menjadi duta
besar Indonesia di Mesir.
“Saya tahu benar kehidupan anak-anak Pak Quraisy Shihab, bahkan saya
ikut membantu keperluan keluarga, misal memandikan Najwa Shihab ketika
masih kecil,” tuturnya mengkisahkan betapa akrabnya dia dengan keluarga
Quraisy Syihab.
Setelah
lulus S2 dari jurusana Aqidah/Filsafat yang di Indonesia dikenal
jurusan Usuluddin, Habib Mahdar tidak langsung pulang ke Indonesia. Dia
berpetualang di berbagai negara, dan baru pulang ke Indonesia ketika
ayahnya meninggal pada 1989.
Di
Indonesia pun, dia tidak menetap di satu kota, tetapi berpindah-pindah.
Belum ada ketetapan di dalam hatinya untuk menetap di satu kota karena
pekerjaannya berganti-ganti, seperti sebagai pedagang, pengerah tenaga
kerja ke Timur Tengah, dan kerja serabutan lainnya. Di samping, pada
waktu itu Habib Mahdar masih senang membujang.
“Sebetulnya ingin juga punya istri, tetapi karena belum ada yang cocok, maka menjadi jejaka tua,” katanya berseloroh.
Pada
waktu kerja di biro perjalanan haji dan umrah di Jakarta, dia bertemu
dengan Hajjah Erlina Juniningsih, seorang gadis Melayu asal Kerinci,
Jambi. Jadi dalam umur 49 tahun baru menikah! Namun alhamdulillah dalam
perkawinan yang penuh suka dan duka itu, pasangan ini dikarunia sepasang
putra-putri yang tampan dan cantik. Yang sulung bernama Syarif Alifian
bin Mahdar Al-Qadri (8 tahun) dan yang bungsu Najwa binti Mahdar
Al-Qadri (4 tahun).
Sebetulnya
mereka sudah hidup tenang di Jakarta, tetapi tak dinyana adiknya, Habib
Farid bin Abubakar Al-Qadri menariknya ke Balikpapan untuk mengasuh
sebuah pondok pesantren. “Saya bilang tidak siap, bagaimana bisa,
keluarga saya di Jakarta. Karena itu pada awalnya saya hanya beberapa minggu ke Balikpapan kemudian pulang lagi ke Jakarta,” katanya.
Pada
tahun 2008, setelah pondok pesantren sudah mulai terbangun dan sudah
ada beberapasantri, maka Habib Mahdar tinggal di Balikpapan agak lama.
Tiba-tiba, tanpa sepengetahuannya, istrinya dan anak-anaknya didatangkan
pula oleh Habib Farid ke Balikpapan. Maksudnya, supaya satu keluarga
kumpul dalam satu atap.
“Karena keluarga sudah berkumpul, saya tidak ada alasan lagi menghindar. Yah, bismillah saya
ambil amanat untuk mengasuh pondok pesantren ini, yang kemudian kita
namakan Pondok Pesantren Nurul Khaeraat Al-Muhibbin,” tuturnya.
Habib
Farid sendiri sebenarnya bukan juru dakwah, tetapi seorang bisnisman
yang banyak tinggal di Batam. Namun karena berasal dari keluarga agamis,
maka jiwa dakwahnya tetap muncul. Karena itu, dia menyisihkan sedikit
keuntungan bisnisnya untuk urusan dakwah, yaitu membangun pondok
pesantren. Hanya saja, umurnya tidak panjang, dia meninggal di Batam
pada tahun 2009.
“Saya sangat terkesan dengan adik saya, karena itulah keluarga kami akan terus mengadakan haul untuknya,” ujar Habib Mahdar.
Kini
tinggal dia sendiri bersama dukungan keluarga-saudaranya di beberapa
kota untuk meneruskan peninggalan Habib Farid membangun pondok pesantren
yang dicita-citakannya.
Habib
Mahdar membangun pondok dengan memodifikasi kotak-kotak kontainer yang
tidak terpakai hasil sumbangan H Pramono, seorang dermawan dari
Balikpapan. Ada sebanyak 15 kontainer yang dijajar di tanah seluas 7680
meter persegi di Jalan Sepinggan Baru RT 46 Kelurahan Sepinggan
Kecamatan Balikpapan Selatan. Inilah pondok pesantren satu-satunya di
Indonesia, atau bahkan di dunia, yang bangunannya terbuat dari kotak
container yang dimodifikasi menjadi bilik-bilik santri dan tempat
tinggal pimpinan.
Satu
container diperuntukkan bagi delapan santri. Tentu saja, container ini
sudah diberi pintu dan jendela khusus. Sedang untuk mengurangi hawa
panas, di langit-langit dipasang kipas angin untuk mengurangi udara
panas, juga menyegarkan udara ruang, sekaligus mengusir nyamuk-nyamuk
yang masih banyak di sekitar tempat tinggal yang berkontur bukit tanaman
hutan.
Sedang
untuk kelas pelajaran, dibuatkan ruang serba guna yang sekaligus bisa
menjadi mushala, tempat pertemuan, atau keperluan lainnya. Namun,
pengurus pondok sudah membangun tiga ruang kelas permanen, di bawah
bangunan lama. Karena itulah, para santri dan santriwati yang berjumlah
sekitar 100 anak, bisa belajar dengan layak di kelas masing-masing.
Dalam
dakwah di luar, seperti di lembaga pemerintahan, swasta maupun
masyarakat biasa; Habib Mahdar mengikuti situasi dan kondisi. “Kita
tidak bisa main keras-kerasan seperti dilakukan kaum ekstremis,
sedikit-sedikit haram, thagut, dan ancaman neraka. Kita perlu menyelami
jiwa hadirin kita, kalau mereka dari kumpulan penggemar motor gede, kita
ikuti mereka dengan hobi mereka, tetapi kita arahkan kepada akhlak yang
islami,” katanya.
Begitu
juga, pernah di suatu hotel, dia lihat pemain musiknya memainkan
lagu-lagu yang kurang pas dengan orang-orang yang menginap di hotel itu.
Karena itulah, dia tergugah untuk mengajar para santrinya main band
dengan lagu-lagu islami, dan ternyata bisa diterima di hotel itu.
“Di
sekitar pondok sini dulu banyak preman dan pemabuk nongrong di pinggir
jalan, daya datangi mereka dengan mengenakan pakaian cara mereka. Saya
ikuti mereka main gaple, catur, dan bergaul layaknya teman. Namun saya
cegah mereka minum-minuman keras dan memalak orang, akhirnya mereka
segan, dan mencari pekerjaan yang benar, bahkan ada yang ikut ngaji ke
pondok,” kisahnya.
Kehadiran
Habib Mahdar di Balikpapan cukup dipandang, bahkan habib-habib muda
yang datang ke Balikpapan selalu menyempakatkan diri untuk silaturahmi.
Begitu juga, Habib Mahdar menjaga kerukunan di antara keluarga habaib di
Balikpapan, jangan sampai ada segelintir oknum habib yang datang ke
Balikpapan, tetapi belum tahu keadaan di Balikpapan, sudah mengatur
sana-sini. Sudah berbuat aneh-aneh. Sebab tindakan semacam ini akan
merusak nama habaib secara keseluruhan. Saiful Bahri
http://www.kabarbanjarmasin.com/posting/habib-mahdar-al-qadri-habib-gaul-dari-balikpapan.html
