BALIKPAPAN - Berbeda dengan sekolah formal berstatus
swasta lainnya. Puluhan sekolah mulai tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI)
atau tingkatan SD hingga Madrasah Aliyah atau setingkat SMA di
Balikpapan rupanya tak selengkap dan semegah sekolah umum biasanya.
Hal ini diakui Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Balikpapan, Drs H
Saifi MPd. Berdasarkan penuturannya, lebih dari 20 sekolah berbasis
Islam di Kota Balikpapan, khususnya yang berstatus swasta masih belum
seutuhnya tercover dalam masalah fasilitas seperti ruang kelas
laboratorium.
“Kendala kita selama ini memang input yang mana, biasanya madrasah menjadi pilihan terakhir dari siswa,” papar Saifi.
Padahal menurutnya, bagi orangtua yang menginginkan sang buah hati
lebih insentif dalam pembelajaran agama Islam, merupakan langkah yang
tepat untuk memasukkannya di sekolah madrasah.
“Ada kelebihan dan kekurangannya. Tetapi kami punya kebanggaan
tersendiri karena sejauh ini pendidikan agama di madrasah sebesar 30
persen,” sebutnya.
Untuk kualitas pendidikan, ia berani menjamin jika sebenarnya mutu
madrasah berstatus negeri dan swasta sama. Hanya saja, untuk madrasah
berstatus swasta dikelola oleh yayasan. Dan, menurut Saifi memang harus
memiliki kesiapan berjuang mendirikan sekolah.
Dari kuota pembelajaran agama yang mencapai 30 persen bahkan lebih
itulah yang dianggap menjadi keunggulan sekaligus tantangan bagi
madrasah dalam menciptakan lulusan yang berkualitas dengan fasilitas
yang tidak begitu lengkap.
“Alhamdulillah tahun ini ada bantuan dari Kementrian Agama untuk 5
madrasah di Balikpapan berupa lab bahasa. Ke depan secara bertahap kami
harapkan bisa mencakup semuanya,” tandasnya. (rem)
http://www.balikpapanpos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=88202