BALIKPAPAN--Peredaran uang palsu di wilayah kerja Kantor Perwakilan
Bank Indonesia Balikpapan pada Januari 2013 mencapai 389 bilyet atau
hampir mendekati jumlah temuan pada tahun sebelumnya yang mencapai 431
bilyet.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan Tutuk SH
Cahyono mengatakan sebagian besar bilyet pecahan uang palsu yang
ditemukan pada Januari ini merupakan pecahan Rp100.000 tahun emisi 2004
yang mencapai 388 bilyet.
Selain itu, juga ditemukan satu bilyet yang merupakan pecahan Rp50.000.
"Tren peredaran uang palsu dalam beberapa bulan terakhir meningkat
drastis. Kami juga memberikan edaran kepada perbankan untuk lebih
meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran uang palsu," kata Tutuk,
Jumat (25/1/2013).
Tutuk mengungkapkan peningkatan temuan beredarnya uang palsu di
wilayah kerjanya yang meliputi Balikpapan, Penajam Paser Utara dan
Paser, terjadi sejak pertengahan 2012.
Angka tersebut terus bergerak tajam hingga pada Desember mencapai 175 bilyet temuan uang palsu.
Peningkatan temuan uang palsu ini, tambahnya, kemungkinan disebabkan oleh semakin sempitnya ruang gerak pengedar di Pulau Jawa.
Kalimantan yang memiliki area yang cukup luas disasar menjadi daerah potensial pengedaran uang palsu.
Selain itu, semakin dekatnya gelaran pemilihan kepala daerah
(Pilkada) gubernur menjadi kemungkinan lain penyebab meningkatnya
peredaran uang palsu.
Namun, Tutuk mengelak adanya kemungkinan tersebut karena diperlukan kajian lebih lanjut.
"Memang ada kecenderungan meningkat [ketika Pilkada], tapi masih perlu kajian lagi," tambahnya.
KPw BI Balikpapan akan bekerja sama dengan Polda Kaltim serta
pemerintah dan masyarakat untuk mensosialisasikan pengetahuan mengenai
keaslian uang.
Nantinya, pihaknya juga melakukan pemetaan kawasan yang rawan untuk dijadikan lahan basah bagi peredaran uang palsu.
Temuan uang palsu tersebut berasal dari informasi perbankan serta masyarakat yang ditindak lanjuti oleh aparat kepolisian.
Daerah pinggiran dengan jumlah penduduk yang sedikit menjadi wilayah yang rawan terhadap peredaran uang palsu.
Kasir Senior KPw BI Balikpapan Julian Nazarudin mengatakan nasabah
dan masyarakat perlu meningkatkan ketelitian guna mempersempit ruang
gerak pengedar uang palsu.
Melalui cara dilihat, diraba dan diterawang serta dengan bantuan
sinar ultraviolet, nasabah dapat mengenali keaslian uang yang diterima.
"Itu untuk semua transaksi baik di teller maupun di mesin ATM. Kalau
menemukan kecurigaan segera melaporkan kepada yang berwenang untuk
diproses lebih lanjut," ujarnya.
Dalam hal ini, Bank Indonesia berperan sebagai saksi ahli yang menentukan keaslian uang tersebut.
Dengan menyempitkan ruang gerak pelaku pengedaran uang palsu, Julian berharap peredaran uang palsu bisa ditekan. (K46) http://www.bisnis.com/articles/uang-palsu-peredarannya-di-balikpapan-mencapai-389-bilyet-pada-januari